Ketidaktaatan dan ketidaksetiaan dalam Alkitab bukan sekedar pelanggaran aturan, tetapi lebih kepada sikap hati yang menolak kehendak Allah. ketidaktaatan juga mengkibatkan hubungan dengan Allah menjadi rusak. Sebaliknya ketaatan dan kesetiaan adalah bentuk sikap hati yang respon kepada Allah yang berdaulat. Ketaatan bukan sekedar melakukan perintah, tetapi menyerahkan sepenuhnya kehendak pribadi kepada Allah bahkan akan tetap bertahan sekalipun harus menghadapi resiko bahaya yang sangat besar.
Dalam (Matius 4:19) menunjukan kisah Petrus adalah salah satu contoh paling nyata tentang bagaimana kesetiaan kepada Tuhan memberi kekuatan untuk tetap taat dalam pelayanan, meski menghadapi risiko yang begitu besar. Petrus, salah satu dari murid Yesus yang penuh semangat, meninggalkan pekerjaan sebagai penjala ikan dan memilih untuk respon panggilan Kristus untuk menjadi penjala manusia. Petrus dipakai Tuhan untuk memberitakan injil bagi orang lain yang belum mengenal Kristus.
Dalam memberitakan injil bukanlah hal yang mudah, karena harus menghadapi ancaman dan begitu hebat bahaya karena injil Kristus. Namun Petrus tidak menyerah bahkan tetap semangat dalam menyampaikna injil Kristus. Salah satu contoh, ketika Yesus ditangkap, Petrus menunjukkan keberanian yang luar biasa, ia mencoba membela Guru-Nya dengan pedang (Yohanes 13:10). Namun, ketika situasi memburuk dan tekanan meningkat, Petrus sempat menyangkal Yesus tiga kali. Kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia lemah, tetapi kesetiaan yang sejati akan bangkit kembali semangat dalam pelayanan. Karena itu setelah kebangkitan Yesus, Petrus diteguhkan kembali untuk melayani dengan berani, sehingga ketika sekali berkhotbah 3000 jiwa langsung bertobat.
Semangat Petrus sangat luar biasa sehingga dia tetap taat dan setia, bahkan sampai ia menghadapi kemartiran. Kesetiaan ini memberinya kekuatan untuk taat, bukan karena takut, tetapi karena cinta dan komitmennya kepada Tuhan.
Kesetiaan dan ketaatan dari Petrus membuatnya menjadi tonggak awal gereja dan saksi yang kuat bagi banyak orang. Pelayanan yang setia, meski penuh risiko, akan membawa dampak yang lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan.
Demikian juga kita sebagai orang percaya, dalam melayani Tuhan seringkali kita menghadapi berbagai macam resiko seperti: penolakan, ejekan, bahkan bahaya fisik. Tetapi dibalik semua itu kesetiaan pada Tuhan akan menguatkan hati kita untuk tetap melayani dengan penuh keberanian.
Kisah dari Petrus mengajarkan kita bahwa ketaatan dalam pelayanan bukan soal kenyamanan, tapi tentang komitmen pada panggilan Tuhan. Ketika kita setia melayani, Tuhan memberi kekuatan untuk menanggung konsekuensi dan tetap bertekun. Bahkan ketaatan dan kesetiaan sanggup untuk mengalahkan rasa takut dan kelemahan kita.