Ada orang yang sebenarnya mengenal Tuhan. Ia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun dalam setiap keputusan, ia lebih sering bertanya, “Apa yang menguntungkan saya?” daripada “Apakah ini menyenangkan hati Tuhan?”
Ketika harus memilih antara kejujuran dan keuntungan, ia memilih keuntungan. Ketika harus memilih antara taat dan nyaman, ia memilih yang nyaman. Ia masih berdoa dan beribadah, tetapi hidupnya lebih berpusat pada diri sendiri. Inilah gambaran orang yang tidak taat, bukan karena tidak tahu kehendak Tuhan, tetapi karena lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada perasaan Tuhan. Namun orang taat akan menempatkan Tuhan di atas segalanya.
Dalam Kejadian 22:9–10, Abraham membangun mezbah dan mengikat Ishak, anaknya, untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Ishak adalah anak yang sangat dikasihi dan anak perjanjian yang sudah lama dinantikan. Secara perasaan, tentu Abraham sangat sedih dan berat melakukannya. Tetapi Abraham tetap taat. Ia lebih memilih percaya kepada Tuhan dari pada mengikuti perasaannya sendiri. Ia yakin bahwa Tuhan setia dan tidak pernah salah. Taat karena iman berarti mengutamakan kehendak Tuhan, walaupun hati kita tidak enak atau tidak mengerti. Kadang Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu yang kita sayangi, mengampuni saat kita terluka, atau tetap setia saat keadaan sulit. Taat bukan berarti tidak punya perasaan, tetapi memilih percaya bahwa rencana Tuhan lebih baik dari pada perasaan kita sendiri. Saat kita mengutamakan Tuhan, Dia akan memelihara dan memberkati hidup kita.
Kejadian 22:9–10 mengajarkan bahwa taat karena iman berarti mengutamakan kehendak dan perasaan Tuhan daripada perasaan kita sendiri. Abraham tetap taat meskipun hatinya pasti berat, karena ia percaya bahwa Tuhan setia dan rencana-Nya selalu baik.
Demikianlah, dari kisah ini kita belajar bahwa ketaatan sejati lahir dari iman. Saat kita memilih percaya dan mengikuti Tuhan, walaupun tidak mudah, Tuhan akan memelihara dan menyertai hidup kita..