Dalam kehidupan ini bayangkan seekor domba yang kecil dan lemah yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri, dimana hidup atau matinya sangat bergantung pada siapa yang menjaganya. Bagi umat Israel, gambaran gembala dan domba adalah cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Jika gembalanya baik, domba akan hidup tenang, namun jika gembalanya jahat, domba akan tercerai-berai dan celaka. Dalam Yehezkiel 34:1-8 Tuhan Allah sebagai gembala Agung mengungkapkan rasa sedih dan marah-Nya karena penderitaan umat-Nya. Ternyata, umat-Nya menderita bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena perilaku pemimpin mereka sendiri, para raja dan pemuka agama yang seharusnya menjaga mereka. Para domba disebut sebagai umat Allah sedangkan pemimpin ini disebut sebagai gembala yang jahat, mereka hanya memikirkan keuntungan pribadi dan tidak memikirkan keadaan umat Allah. Mereka menikmati fasilitas dan kekayaan dari rakyat, namun tidak peduli pada kesejahteraan rakyatnya. Domba yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit dibiarkan, dan yang tersesat tidak dicari. Sebaliknya, mereka memimpin dengan kekerasan dan penindasan, sehingga umat Tuhan hidup dalam ketakutan dan tanpa arah. Karena itu dalam Yehezkiel 34:10 Allah sebagai gembala Agung dan pemilik domba tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini. Sebab itu melalui nabi Yehezkiel Allah menegaskan sebuah penyataan yang sangat penting, bahwa domba-domba itu adalah milik kepunyaan-Nya sendiri, bukan milik para pemimpin tersebut. Para pemimpin hanyalah pengelola yang dititipkan tugas oleh Allah kepada mereka. Karena itu ketika pengelolah gagal, maka Allah sendiri yang akan turun tangan untuk menuntut pertanggungjawaban atas setiap kelalaian dan menghentikan kekuasaan mereka bahkan membebaskan umat-Nya dari penderitaan dan penindasan yang selama ini mereka alami.