Setiap orang percaya memiliki pengalaman bersama Tuhan yang dapat menjadi kesaksian bagi orang lain. Pengalaman tentang pertolongan, kasih, pengampunan, dan penyertaan Tuhan bukan hanya untuk disimpan dalam hati, tetapi juga untuk dibagikan agar orang lain dapat mengenal kebaikan-Nya.
Dalam Kisah Para Rasul 4:20, Petrus dan Yohanes menyatakan bahwa mereka tidak mungkin berhenti berbicara tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar. Walaupun menghadapi ancaman, mereka tetap berani memberitakan tentang Yesus Kristus. Kesaksian mereka lahir dari pengalaman nyata bersama Tuhan dan keyakinan akan karya keselamatan-Nya.
Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk menjadikan pengalaman bersama Kristus sebagai kesaksian. Ketika Tuhan menolong kita dalam kesulitan, memberikan kekuatan dalam penderitaan, atau mengubah kehidupan kita, semua itu dapat menjadi kesempatan untuk menyatakan kasih-Nya kepada orang lain.
Memberitakan Injil tidak harus selalu melalui perkataan yang panjang. Kita dapat bersaksi melalui cerita sederhana tentang kebaikan Tuhan, melalui kasih kepada sesama, sikap mengampuni, kejujuran, dan kehidupan yang mencerminkan Kristus. Kesaksian yang benar bukan untuk membuat orang memuji diri kita, melainkan supaya mereka mengenal Yesus sebagai Juruselamat.
Oleh karena itu, janganlah kita menyimpan pengalaman bersama Tuhan hanya untuk diri sendiri. Marilah kita berani menceritakan kebaikan-Nya dan menjadi teladan melalui kehidupan sehari-hari. Kiranya apa yang telah kita lihat dan dengar tentang Tuhan menjadi kesaksian yang membawa pengharapan dan menolong orang lain semakin mengenal Yesus Kristus.