Ada orang yang masih mengenal Tuhan. Ia tahu tentang Tuhan, ia percaya bahwa Tuhan ada, bahkan ia tetap datang beribadah. Namun dalam kenyataannya, Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidupnya.
Tuhan hanya dijadikan pelengkap, bukan dasar utama. Artinya, Tuhan ditempatkan sebagai tambahan dalam hidup, bukan sebagai fondasi. Selama hidup berjalan baik, ia tetap bersyukur dan terlihat setia. Tetapi ketika masalah datang, hatinya mulai goyah. Ia mudah kecewa, mudah menjauh, bahkan bisa menghilang dari persekutuan. Iman seperti ini tidak memiliki akar yang kuat. Ia percaya, tetapi tidak sungguh-sungguh tertanam. Orang yang tidak tertanam dalam Tuhan biasanya memiliki hati yang mudah berubah. Ia tidak puas beribadah di satu tempat. Ia sering berpindah-pindah, mencari tempat yang sesuai dengan seleranya. Motivasi ibadahnya bukan lagi untuk bertumbuh dan setia, tetapi untuk mencari kenyamanan. Hatinya tidak tetap. Ia ingin Tuhan, tetapi juga ingin kenyamanan dari hal-hal lain. Ia ingin berkat Tuhan, tetapi tetap ingin mengikuti keinginan diri sendiri. Ia tidak sepenuhnya menyerahkan hidup kepada Tuhan. Akibatnya, ketika badai kehidupan datang, ia mudah tercabut. Ketika tekanan muncul, ia mencari sandaran lain. Secara luar terlihat percaya, tetapi sebenarnya akarnya dangkal. Keadaan seperti ini pernah terjadi pada bangsa Israel pada masa kepemimpinan Yosua. Bangsa Israel masih tergoda untuk menyembah ilah-ilah bangsa lain di sekitar mereka. Mereka ingin tetap memiliki Tuhan, tetapi juga ingin rasa aman dari ilah-ilah lain. Mereka ingin berkat dari Tuhan, tetapi juga ingin mengikuti kebiasaan dunia di sekeliling mereka. Hati yang mendua seperti ini tidak akan bertahan lama. Mereka terlihat seperti umat Tuhan, tetapi kesetiaan mereka tidak sepenuhnya kepada-Nya. Hati yang terbagi tidak akan kuat menghadapi ujian.
Dalam Yosua 24:15 memberikan pengertian yang baik bahwa dekat dengan Tuhan berarti menempatkan Dia sebagai pusat dari seluruh hidup kita. Bukan hanya ketika segala sesuatunya berjalan lancar, bukan hanya ketika kita merasa bahagia atau aman. Tetapi dekat dengan Tuhan berarti tetap setia kepada-Nya saat badai datang, saat masalah menimpa, saat rencana hidup kita tak sesuai harapan. Ketika kita berakar dalam Tuhan, iman kita tidak goyah. Seperti pohon yang tertanam di tepi sungai, kita mendapat kekuatan dari sumber yang benar, terus bertumbuh, dan memberi kehidupan bagi orang lain. Ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, kita juga menjadi saksi bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Seperti Yosua yang berkata, “Aku dan seisi rumahku”, kesetiaan kita kepada Tuhan memengaruhi generasi berikutnya.
Seseorang mungkin terlihat rohani di luar, tetapi jika akarnya dangkal, ia akan mudah goyah. Ketika keadaan tidak sesuai harapan, ia bisa berubah arah. Ketika ancaman datang, ia mencari ilah lain sebagai sandaran, entah itu uang, jabatan, relasi, atau kekuatan diri sendiri. Inilah tanda bahwa seseorang belum benar-benar tertanam. Sebaliknya, orang yang tertanam dalam Tuhan menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya. Ia tidak hanya mencari Tuhan saat membutuhkan pertolongan. Dalam setiap keputusan, ia mengutamakan Tuhan. Dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan ketika menghadapi masalah, ia tetap setia. Kedekatan dengan Tuhan tidak hanya terlihat saat ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak mudah terpengaruh oleh keadaan. Ia tetap setia, baik dalam kelimpahan maupun dalam kesulitan. Orang yang tertanam memiliki akar yang dalam. Ketika badai datang, ia tidak mudah tercabut. Ketika tekanan muncul, ia tidak mencari sandaran lain, karena ia tahu bahwa Tuhan adalah satu-satunya dasar hidupnya.