Seorang gembala yang benar akan membawa domba pada keamanan dan kehidupan, sedangkan gembala yang salah justru dapat menyebabkan kebinasaan. Dalam Yohanes 10:15, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik yang mengenal domba-domba-Nya secara pribadi. Pengenalan ini lahir dari relasi kasih yang mendalam, sebanding dengan hubungan antara Yesus dan Bapa. Dari kasih itulah muncul pengorbanan sejati, di mana Yesus tidak melarikan diri dari bahaya, melainkan berdiri melindungi domba-domba-Nya. Selain itu Yesus membedakan dengan jelas antara gembala yang baik dan gembala yang jahat atau orang upahan. Perbedaan keduanya tidak terletak pada jabatan atau kemampuan, melainkan pada hati. Gembala yang baik menggembalakan dengan kasih dan tanggung jawab, rela berkorban demi keselamatan domba. Sebaliknya, gembala yang jahat menggembalakan demi kepentingan diri sendiri dan akan meninggalkan domba ketika bahaya datang.
Puncak kasih dan pengorbanan Yesus sebagai Gembala yang baik terlihat di kayu salib. Ia rela menyerahkan nyawa-Nya agar domba-domba-Nya memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Kematian-Nya menjadi bukti kasih yang sempurna, yaitu dengan pengertian sederhana Gembala mati supaya domba hidup.