Ada orang yang kita sebut sebagai Gembala yang tidak setia. Bagi dia, memimpin itu hanya soal jabatan dan keuntungan. Saat suasana tenang, dia terlihat hebat dan berkuasa. Namun, begitu ada masalah atau bahaya datang, dia adalah orang pertama yang lari menyelamatkan diri. Seperti yang di katakan dalam (Yohanes 10:12) gembala tersebut disebut sebagai seorang upahan. Dia tidak peduli jika, domba-dombanya terluka atau kebingungan. Baginya, yang penting perutnya kenyang dan posisinya aman. Pemimpin seperti ini hanya membuat orang-orang di bawahnya merasa lemah dan kehilangan arah. Namun ada juga yang kita sebut sebagai gembala yang setia. Bagi dia orang yang dipimpinnya adalah titipan yang sangat berharga dari Allah untuk dijaga. Tipe gembala ini lebih mengutamakan kepentingan domba/jemaat-Nya dibandingkan dengan kepentingan pribadi-Nya. karena itu tipe dari Gembala ini tidak akan bertindak kasar atau dengan emosi namun sebaliknya akan selalu sabar dalam menghadapi setiap perilaku dan sikap dari domba/jemaatNyaa dengan merangkul mereka agar tidak tersesat.
Dalam 1 Samuel 17:34-35 memberikan pengertian yang baik bahwa Daud adalah seorang gembala muda yang setia, bukan prajurit atau tokoh besar. Dalam kesehariannya hanya menjaga domba-domba ayahnya. Daud menunjukkan sikap tanggung jawab dan keberanian yang luar biasa. Meski tugasnya tampak sederhana, Daud menjalaninya dengan sepenuh hati, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi setiap domba. Sebab itu saat singa atau beruang datang menerkam, Daud tidak lari, melainkan berani mengejar dan melawan binatang buas itu demi menyelamatkan domba yang berharga baginya. Seperti yang dikatakan dalam (Yohanes 10:11) sikap gembala yang baik rela memberikan nyawa demi keselamatan kawanan dombaNya.
Kesetiaannya terlihat dari sikapnya yang tidak menganggap remeh kehilangan satu domba pun. Ia bertindak dengan keberanian yang lahir dari rasa tanggung jawab dan kepercayaannya kepada Tuhan. Kesetiaan Daud dalam perkara kecil di padang penggembalaan mempersiapkannya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar, termasuk melawan Goliat dan memimpin umat Tuhan. Kisah Daud mengajarkan bahwa Tuhan menghargai kesetiaan yang tulus, bahkan ketika tidak dilihat orang lain, dan melalui kesetiaan itulah Tuhan membentuk dan memakai hidup seseorang.
Begitu pun juga dalam pelayanan gereja, gembala yang baik tidak akan membiarkan jemaat-Nya sendirian, melainkan selalu siap sedia untuk menjaga kawanan domba-Nya tetap sehat, aman dan sejahtera. Oleh sebab itu jika menjadi seorang gembala, bukan tentang sebarapa keras suara dalam memerintah tetapi lebih menekankan seberapa besar hati-Nya untuk tetap menjaga kawanan domba/jemaat-Nya..