Dalam kehidupan rohani, banyak orang ingin bertumbuh dan berhasil, tetapi tidak semua mau berakar. Banyak yang ingin berbuah, tetapi tidak semua mau tertanam. Padahal, tidak ada pertumbuhan tanpa akar yang kuat. Pohon bisa berdiri kokoh bukan karena batangnya tinggi, tetapi karena akarnya dalam. Begitu juga gereja. Gereja tidak menjadi kuat hanya karena jumlah jemaatnya banyak, tetapi karena jemaatnya berakar dalam penggembalaan.
berakar dalam penggembalaan berarti hidup yang tertanam kuat di dalam Kristus sebagai Gembala Agung, dan mau dibimbing dalam kehidupan gereja. Akar memang tidak terlihat, tetapi akar menentukan kekuatan pohon. Demikian juga iman kita. Kekuatan rohani tidak ditentukan oleh aktivitas luar, tetapi oleh kedalaman hubungan dengan Tuhan dan kesediaan untuk dibentuk dalam penggembalaan.
Berakar berarti tertanam, bukan hanya singgah. Ada orang yang datang ke gereja, tetapi hatinya tidak benar-benar menetap. Saat keadaan tidak sesuai harapan, ia mudah pergi. Tetapi orang yang berakar akan tetap tinggal, sekalipun ada teguran, proses, atau kekecewaan. Ia mengerti bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu dan kesabaran.
Salah satu tanda jemaat yang berakar adalah hidup dalam Firman Tuhan. Firman Tuhan seperti air dan makanan bagi akar. Jika akar tidak menyerap nutrisi, pohon akan kering walaupun dari luar masih terlihat hijau. Begitu juga jemaat yang tidak hidup dalam Firman, mungkin tetap aktif, tetapi perlahan kehilangan kekuatan rohani. Ketika masalah datang, iman yang tidak berakar dalam Firman akan mudah goyah.
Hidup dalam Firman berarti bukan hanya mendengar, tetapi melakukan. Firman menjadi dasar dalam mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan menentukan arah hidup. Dalam penggembalaan, kita belajar dipimpin oleh kebenaran, bukan oleh perasaan. Jemaat yang berakar dalam Firman tidak hidup menurut emosi sesaat, tetapi menurut prinsip Tuhan yang tetap dan tidak berubah.
Seperti yang dikatakan dalam Matius 7:24, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” Rumah yang kokoh, pohon yang kuat, gereja yang tangguh. Semua berakar pada kesetiaan untuk mendengar, menaruh iman, dan hidup menurut Firman Tuhan.
.