kita. Bukan hanya mengenal-Nya secara teori, tetapi mengalami dan menaati-Nya setiap hari. Ketika Kristus tinggal di hati kita, hidup kita tidak lagi dikuasai emosi, ego, atau kepahitan, tetapi dipimpin oleh kasih-Nya.
Akar berbicara tentang kedalaman. Semakin dalam akar, semakin kuat pohon berdiri. Begitu juga dalam penggembalaan, kita tidak cukup hanya hadir di gereja. Kita perlu tertanam, mau diajar, mau dibimbing, dan mau dibentuk. Melalui firman dan proses rohani, akar kita makin dalam di dalam kasih Kristus.
Kasih adalah dasar yang penting. Tanpa kasih, pelayanan hanya rutinitas dan persekutuan hanya formalitas. Tetapi jika kita berakar dalam kasih, kita belajar mengampuni, setia, dan rendah hati. Kasih membuat kita tetap bertahan meskipun ada perbedaan dan tantangan.
Dalam Efesus 3:17, Paulus berdoa supaya Kristus diam di dalam hati orang percaya dan hidup mereka berakar dalam kasih. Hidup seperti ini tidak terjadi seketika. Dibutuhkan waktu, kesetiaan, dan ketaatan. Setiap kali kita memilih mengampuni, bersabar, dan tetap setia, akar kita makin dalam.
Kekuatan hidup orang percaya bukan pada diri sendiri, tetapi pada Kristus yang tinggal di hati dan kasih-Nya yang menjadi dasar hidup. Jika kita berakar dalam kasih-Nya, hidup kita akan teguh dan iman kita semakin kokoh.