Secara manusia, terkadang kita cenderung memilih yang enak. Kita lebih mudah tertarik pada apa yang langsung terlihat hasilnya. Harta, jabatan, pujian, kenyamanan. Karena semua itu terasa nyata dan bisa langsung dapat dinikmati hasulnya. Sementara hidup oleh iman sering kali tidak langsung terlihat hasilnya. Perlu kesabaran, pengorbanan, bahkan kadang harus menghadapi penderitaan.
Pada dasarnya keadaan dari Musa sebenarnya memiliki hidup yang nyaman di istana Mesir karena dia di anggap sebagai pangeran Mesir. Musa punya kekayaan, kedudukan, dan masa depan yang terjamin di Mesir. Secara manusia, tidak ada alasan untuk meninggalkan semua itu. Tetapi iman membuat Musa melihat lebih jauh. Ia sadar bahwa semua kemewahan itu hanya sementara, sedangkan janji Tuhan adalah kekal.
Musa, dalam Ibrani 11:24–25, menolak kemewahan istana Firaun dan memilih menderita bersama umat Allah. Ia melihat kenikmatan kekal yang jauh lebih berharga daripada kesenangan sementara. Kisah ini mengingatkan kita: iman bukan hanya percaya, tapi taat meski sulit..
Dalam hidup kita juga ada pilihan seperti itu. Kadang kita harus memilih antara kenyamanan atau kebenaran, antara keuntungan atau kesetiaan. Dunia menawarkan kesenangan sesaat, tetapi iman mengingatkan kita pada berkat yang kekal.
Taat karena iman berarti berani berkata “tidak” pada dosa dan tetap setia kepada Tuhan, walau harus membayar harga. Lebih baik hidup sederhana bersama Tuhan, dari pada hidup mewah tanpa Dia.
Karena itu, ketika iman tidak menjadi dasar hidup, manusia cenderung memilih kenyamanan dan kesenangan dunia daripada ketaatan kepada Tuhan. Pilihan seperti ini mungkin terasa aman dan menguntungkan untuk sementara, tetapi meninggalkan damai sejahtera dan janji kekal dari Tuhan.
Demikianlah, penting bagi kita untuk mengevaluasi pilihan sehari-hari kita, apakah kita hidup untuk kesenangan sementara, atau berani taat kepada Tuhan meski harus berkorban. Imanlah yang menolong kita memilih yang kekal daripada yang sesaat.