Terkadang dalam hidup ini, kebanyakan orang memilih untuk taat karena ada sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya. Jika tidak ada, maka dia tidak akan taat. Namun sebagai orang percaya, kita di arahkan untuk memiliki sikap taat bukan karena ada sesuatu, namun sebaliknya taat karena itu adalah perintah Allah.
Oleh sebab itu orang yang menyadari ketaatan adalah perintah Allah akan melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan hati Allah, meski itu berat atau berbeda dari kebiasaan dan keinginan kita. Salah satu perintah Allah adalah ketika Ia melarang umat-Nya menyembah berhala. Hal ini menunjukan bahwa Allah bukan mengekang dan menekan umatnya, tetapi karena Ia rindu kita memiliki hubungan yang benar, jujur, dan murni dengan-Nya.
Contoh yang jelas adalah Raja Hizkia. Dalam 2 raja-raja 18:4 memceritakan bahwa Hizkia hidup di tengah bangsa yang sudah terbiasa menyembah berhala, namun Hizkia berani mengambil keputusan sulit yaitu menghancurkan semua berhala dan bahkan ular tembaga yang dulu dipakai Allah untuk menolong umat-Nya. Ia tidak terikat pada tradisi atau pendapat orang lain, tetapi memilih menaati firman Tuhan sepenuh hati. Meskipun keputusannya bisa membuatnya ditolak atau disalahpahami, Hizkia menempatkan ketaatan kepada Allah di atas segalanya.
Di zaman sekarang, “berhala” tidak selalu berupa patung. Bisa berupa uang, kesuksesan, pekerjaan, atau kenyamanan hidup. Jika kita lebih mengejar hal-hal itu daripada Allah, tanpa sadar kita menjadikan mereka lebih penting daripada Tuhan.
Ketaatan berarti menempatkan Allah sebagai yang utama dalam setiap bagian hidup kita: pikiran, perkataan, dan tindakan. Ketika kita memilih taat, hidup kita menjadi berkenan di hadapan Tuhan, dan nama-Nya dimuliakan melalui cara kita hidup.