Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dan memberitakan Injil. Namun, pemberitaan Injil tidak hanya dilakukan melalui perkataan, tetapi juga melalui kehidupan.
Dalam 2 Korintus 3:2–3, Rasul Paulus menggambarkan orang percaya sebagai surat Kristus yang dapat dikenal dan dibaca oleh semua orang. Gambaran ini menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya seharusnya menjadi kesaksian yang memperkenalkan Kristus kepada dunia. Injil bukan hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga melalui sikap, karakter, dan tindakan sehari-hari.
Menjadi surat Kristus berarti menghadirkan kasih, pengampunan, kerendahan hati, kesetiaan, dan pengharapan Kristus melalui kehidupan kita. Orang lain mungkin tidak membaca Alkitab, tetapi mereka dapat melihat kehidupan kita. Karena itu, cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, dan mengambil keputusan dapat menjadi kesaksian tentang Kristus.
Paulus juga menegaskan bahwa surat Kristus ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan Roh Allah yang hidup. Artinya, kehidupan yang mencerminkan Kristus merupakan pekerjaan Roh Kudus yang mengubahkan hati dan karakter manusia. Oleh sebab itu, seorang percaya perlu terus hidup dekat dengan Tuhan melalui doa, firman, dan ketaatan kepada-Nya.
Menjadi surat Kristus juga berarti berani menjalankan panggilan untuk memberitakan Injil. Kehidupan yang benar dapat membuka kesempatan, sementara perkataan kita dapat menjelaskan tentang keselamatan dalam Kristus. Dengan demikian, kesaksian hidup dan pemberitaan Injil harus berjalan bersama.
Karena itu setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi surat Kristus di mana pun Tuhan menempatkannya. Rumah, tempat kerja, lingkungan, pertemanan, dan masyarakat merupakan tempat untuk menunjukkan Kristus. Ketika orang membaca kehidupan kita, kiranya mereka tidak hanya melihat diri kita, tetapi juga dapat mengenal kasih dan karya Kristus melalui kehidupan kita.