Dalam perjalanan hidup ini, kita sering mengira bahwa tantangan berat hanya datang dari luar. Namun kenyataannya, luka yang paling dalam justru seringkali muncul dari dalam lingkaran terdekat kita sendiri. Di tempat yang seharusnya menjadi rumah yang aman, seperti gereja atau komunitas bisa menjadi tempat tumbuhnya masalah secara diam-diam. Semua ini biasanya dimulai dari hal-hal kecil seperti, beda pendapat yang tidak tuntas, salah paham dalam bicara, atau rasa sedekah karena merasa tidak dihargai. Jika kita tidak menyikapinya dengan kasih, hal-hal kecil ini akan membesar menjadi kekecewaan, gosip, dan perlahan membuat kita saling menjauh. Seringkali, ego menjadi penghalang utama. Ada rasa ingin diakui, merasa paling senior, atau merasa paling rohani, sehingga pendapat orang lain tidak lagi didengar. Akhirnya, banyak orang merasa terpinggirkan dan kehilangan kegembiraan saat berkumpul bersama. Celakanya, kita sering memilih diam dari pada bicara jujur. Kita memasang topeng senyum di luar, padahal di dalam hati tersimpan kepahitan. Masalah yang tidak pernah dibicarakan secara sehat ini akan terus berulang dan menjadi beban yang berat.
Namun, di tengah kekacauan itu, Allah tidak tinggal diam. Ia adalah seorang Gembala Agung yang sangat peduli pada domba-domba-Nya. Dalam kitab Yehezkiel 34:22 Allah melihat bahwa domba-domba-Nya tidak hanya terluka karena pemimpin yang lalai, tetapi juga karena mereka saling menyeruduk dan menyakiti satu sama lain. Karena itu Allah sendiri langsung turun tangan. Ia bukan hanya datang untuk menghibur, tetapi juga hadir sebagai Hakim yang adil untuk menegur siapa pun yang berbuat semena-mena. Allah ingin kita menjadi kelompok yang sehat, bukan sekadar kelompok yang besar jumlahnya, tetapi Ia ingin hubungan kita menjadi baik dengan sesama. Karena itu dalam kelompok pentingnya kita belajar untuk rendah hati, saling menjaga, dan sadar bahwa kita semua bisa berdiri teguh hanya karena kebaikan Allah. Oleh sebab itu jika kita membiarkan kasih Allah memimpin, maka tidak akan ada lagi saling melukai, melainkan saling mengasihi satu dengan yang lainnya.